TERAPI SEFT

Posted by Paryoto Mas Minggu, 31 Maret 2013 0 komentar
SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (SEFT ®)
(Patent no. IDM 000177179 – nama, materi, dan metodologi pelatihan SEFT dilindungi UU HKI)

SEFT For Healing, Success, Happiness, and Greatness
SEFT adalah sebuah teknik ilmiah revolusioner dan spektakuler karena dikenal sangat mudah dan cepat untuk dapat dirasakan hasilnya (5 s/d 25 menit) yang dapat digunakan untuk :

Mengatasi berbagai masalah Fisik:
Sakit Kepala, nyeri punggung, maag, asma, sakit jantung, kelebihan berat badan, alergi, dan sebagainya.

Mengatasi Berbagai Masalah Emosi:
Takut yang berlebihan (phobia), trauma, depresi, cemas, kecanduan rokok, stress, sulit tidur, mudah marah atau sedih, gugup menjelang ujian atau presentasi, latah, kesurupan, kesulitan belajar, tidak percaya diri, dan beragam masalah-masalah emosi lainnya.

Mengatasi Berbagai Masalah Keluarga dan Anak-anak:
Ketidakharmonisan dalam keluarga, perselingkuhan, permasalahan disfungsi seksual, rumah tangga di ambang perceraian, mengatasi kenakalan anak anak, anak malas belajarm kecanduan permainan online, anak mengompol, dan berbagai masalah keluarga dan anak lainnya.

Meningkatkan Prestasi:
Meningkatkan Prestasi olah raga, prestasi kerja, prestasi belajar, meningkatkan omset penjualan, memperlancar negosiasi, mencapai goal dan target.

Meraih Kesuksesan Hidup,
Meningkatkan Kedamaian Hati dan Kebahagiaan Diri.

TERAPI SEFT

Sembuh Simpel Ala SEFT

Berlatih Terapi SEFT
Saya manggut-manggut, ketika seorang ibu berumur 50an tahun menyatakan kadar gulanya sudah turun. Bahkan sudah bisa makan apa yang dulu menjadi pantangan. Sakitnya juga sudah lumayan mereda. Dia adalah pengidap Diabetes. Setelah diterapi, penyakitnya berangsur sembuh, meski belum 100%.


Berulangkali dia mengucap syukur. Dulu ia sering gelisah karena banyaknya pantangan makan. Belum lagi ia merasa kalut karena takut keburu meninggal sebelum memiliki cucu. Setelah mengikuti training SEFT,  ia mulai leluasa mengikhlaskan apa yang jadi kecemasan terbesarnya Kini, ia lebih berbahagia, bukan cuma lebih bisa menikmati hidup, pun karena menjadi lebih sehat.

Ibu di atas salah satu dari peserta training SEFT yang saya wawancarai. Rupanya, pengobatan yang selama ini dia lakukan tidak berhasil permanen, karena pengobatannya tidak lengkap. Dia sudah berulangkali melakukan pengobatan medis, tapi karena faktor emosi belum selesai, maka penyakit tersebut kambuh kembali.

Selain sang ibu, saya berbincang dengan praktisi lain yang kagum karena Teknik SEFT mampu penyembuhkan phobia dalam hitungan menit. Padahal pada terapi umumnya bisa


Teknik SEFT memang fenomenal. Anda bisa melepas emosi negatif yang berat Anda bubarkan dalam dada. Demikian halnya dengan penyakit. Penyelesaiannya cukup simpel; hanya dengan mengetuk-ketuk ringan beberapa titik di tubuh Anda!

Ada beberapa testimoni yang bisa dibagi tentang efektivitas SEFT. Testimoni ini berdasarkan wawancara langsung, yang saya lakukan dengan orang-orang yang berhasil menggunakan teknik SEFT. Semua testimoni ini diambil dari majalah Al Madinah.  Saya ingin membagi hasil wawancara tersebut di blog ini, beserta kumpulan penyakit yang bisa disembuhkan melalui teknik SEFT.

Harapan saya, setelah membaca hasil wawancara itu, Anda tahu cara terbaik menerapi Anda sendiri. [sumber seft]

MENJADI SEORANG SEFTER TAK OTOMATIS SEKETIKA MAHIR MENERAPI, APALAGI JIKA JARANG DIPRAKTEKKAN.

Salah satu resep paling penting agar semakin mahir menerapi dan peluang kesembuhan semakin besar, selain sering mengamalkan, seorang SEFTer juga harus sering-sering melakukan sharing pengalaman dengan SEFTer lainnya, terutama yang sudah berpengalaman menekuni dunia terapi SEFT.Dengan demikian, tambah banyak melakukan sharing pengalaman maka akan semakin mudah melakukan teknik-teknik untuk banyak ragam kasus, termasuk tidak mengalami kebingungan di saat menemukan kasus yang baru. Ahmad Nurwahid adalah contohnya. Pria angkatan 84 ini berbagi pengalaman kepada Al Madinah, terkait belum berhasilnya Ia menerapi putranya sendiri, yang diduga mengidap gejala anak autis. Pasalnya, putranya tersebut lebih banyak suka menyendiri dan asyik dengan dirinya sendiri ketimbang bersosialisasi atau bermain dengan anak sebayanya.

Padahal untuk anak seumuran sang putra, yaitu usia tujuh tahun—kebutuhan sosialisasi seperti bermain sangatlah penting bagi tumbuh-kembangnya ke depan. Sebagai orang tua, pihak sekolah sering memanggilnya terkait perilaku sang anak tersebut. Untuk mengatasi problem putranya, Ahmad kemudian membawanya ke psikolog. Namun, setiap kali dibawa tak menuai hasil  yang seperti diharapkan. “Pasalnya, anak saya terang-terangan bilang, saya ini bak-baik saja, ngapain diterapi? Dan dia kukuh tak mau diperiksa sama psikolognya. Akhirnya, psikolognya komplain sama saya karena anak saya tidak bisa diatasi,” kisah Ahmad.

Berkat masukan seorang alumni, akhirnya ia memutuskan mengikuti training SEFT. Apalagi, waktu itu, sekali datang konsultasi ke psikolog, ia harus bayar 200 ribu. “Bayangkan kalau saya datang beberapa kali, berapa sebulan saya harus keluar uang? Lha mending saya daftar SEFT saja,” jelasnya. Namun sayangnya, meski sudah mengikuti training dan menjadi alumni, ia tetap saja gagal menerapi anaknya tersebut agar bisa kembali normal. Namun ia tidak patah arang. ia kemudian mencoba sharing dengan SEFTer lain, yaitu Zubaidah. Pasalnya, Zubaidah memiliki kasus dengan anak yang mengidap autis. Karena itu, dia sering dijadikan rujukan terkait terapi SEFT anak autis. Dari SEFTer inilah yang banyak mendapatkan share pengalaman berharga.

“Bu Zubaidah menyarankan saya, jika tidak bisa diterapi sendiri, sebaiknya saya menerapi orang lain. Sementara saya pasrahkan anak saya kepada Allah solusi terapinya. Karena dengan cara menerapi orang lain, menjadi bentuk doa untuk terapi anak saya,” terang Ahmad panjang lebar. Zubaidah sendiri pernah diangkat majalah ini di bagian Laporan Utama. Di mana Zubaidah gagal dalam menerapi buah hatinya sendiri, sementara di sisi lain, ia justru ampuh jika menerapi orang lain. Hingga akhirnya, Maestro SEFT—Faiz Zainuddin – memberinya arahan agar membantu orang lain sebagai jalan kesembuhan putranya. Maka, Zubaidah pun lebih banyak membantu menerapi orang lain. Dan terbukti menuai hasil yang signifikan terhadap sang putra.

Maka, mulailah Ahmad menjalankan hasil sharingnya dengan Zubaidah. Ia jadi sering pulang ke kampung halamannya, Mojokerto, untuk menerapi orang. Pasalnya, di sanalah Ia selalu kedatangan pasien-pasien. “Soalnya, waktu saya nerapi saudara disana, ternyata malah sering diminta nerapi orang-orang. Termasuk yang sudah saya terapi, ketika pulang, dia datang minta diterapi,” kata Ahmad. Sementara itu, secara pribadi, sebenarnya ia sendiri ragu anaknya itu menderita autis. “Lha masalahnya, dia bisa menolak diperiksa psikolog dengan logika yang baik. Kalau memang autis masak seperti itu? Makanya saya menjadi ragu,” jelasnya heran.

Alih-alih merasa ragu, kini ia mulai menyadari hal lain, bahwa semua itu bisa berasal dan dirinya sendiri sebagai orang tua. “Bayangkan, pagi-pagi kami—ayah ibunya—sudah sama-sama pergi bekerja. Waktu kami untuknya sangat sedikit. Dia belum berangkat sekolah, kami sudah berangkat. Kami pulang, dia sudah tertidur. Mungkin inilah bonusnya buat kami Sebagai orang tua. Dia jadi selalu takut jika ketemu orang yang baru. Pengennya selalu sendirian. Sama eyangnya saja dia takut,” imbuh Ahmad. Ahmad sendiri ketika itu menjadi manajer HRD, dengan memegang tiga perusahaan. Sementara istrinya bekerja di Bank Mancliri.
Sumber: Majalah Al Madinah


0 komentar:

Poskan Komentar